Friday, 11 January 2013

BUDIDAYA IKAN KUWE


Kuwe merupakan salah satu jenis ikan permukaan (pelagis) ikan yang sangat digemari oleh masyarakat ini hidup pada perairan pantai dangkal, karang, dan batu karang. Di beberapa restaurant seafood harga ikan kuwe berukuran 300-400 g berkisar Rp. 15.000 - Rp. 20.000 / ekor (2005). Adapun harga Gnathanodon speciousus saat berukuran kecil (3-5 cm) pada tahun 2007 adalah Rp. 3000 - Rp. 5000 per ekor. Ikan tersebut juga merupakan ikan hias yang dinamakan pidana kuning Tubuh kuwe berbentuk oval dan pipih. warna tubuhnya bervariasi, yaitu biru bagian atas dan perak hingga keputih-putihan di bagian bawah. 

Tubuh disisipi sisik halus berbentuk cycloid. Kuwe dapat berenang cepat dan memiliki laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan laut lainnya. Ikan ini bersifat karnivora. Adapun pakan utamanya yaitu ikan dan krustacea berukuran kecil. Ikan ini juga efisien memanfaatkan pakan serta mampu hidup dalam kondisi yang cukup padat. Lokasi yang tepat untuk budidaya ikan kuwe adalah teluk yang terlindung dari ombak dan badai dan memiliki pola pergantian massa air yang baik. Ikan kuwe mempunyai prospek yang cukup baik untuk dibudidayakan dalam karamba jaring apung. 

Salah satu keunggulan budidaya ikan dalam KJA adalah waktu panen dapat diatur menyesuaikan harga ikan di pasar sehingga akan diperoleh harga jual yang lebih tinggi. Pembenihan secara massal di hatchery telah berhasil dilakukan di Gondol, Bali. Namun, hingga kini sumber benih ikan kuwe di daerah terpencil masih dari alam. Benih dengan ukuran sekitar 20-25 g banyak tersebar pada perairan dangkal di sekitar daerah padang lamun. Benih tersebut dapat ditangkap dengan penggunaan alat tangkap seperti redi (pukat pantai), sero, bandrong (jaring angkat), dan bagan. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Benih dimasukkan ke dalam karamba secara perlahan-lahan. Sebelum penebaran, kondisi kualitas air harus diperhatikan.

 Apabila kualitas air pengangkutan berbeda dengan kualitas air lokasi budi daya, perlu dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan, terutama terhadap salinitas dan suhu. Benih berukuran 20-25 g dapat ditebar dengan kepadatan sekitar 150 ekor/m3 untuk pemeliharaan selama 3 bulan. Apabila ikan telah mencapai bobot >250 g/ekor, padat penebaran harus dikurangi sampai 100 ekor/m3. Ikan kuwe bersifat karnivora. Ikan ini dialam memakan ikan dan krustasea kecil. Oleh karena itu, hingga saat ini pakan yang terbaik untuk budi daya ikan kuwe masih berupa ikan rucah yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Pakan diberikan sebanyak 8-6 % bobot badan per hari pada pagi dan sore hari. Perubahan jumlah pemberian pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan pengukuran pertumbuhan. 

Adapun penggunaan pelet komersial juga bisa dilakukan. Pelet yang diberikan berupa pelet tenggelam dengan frekuensi pemberian pelet dua kali sehari dengan jumlah pemberian hingga kenyang. Selama pemeliharaan ikan sering ditemukan parasit eksternal yang umum pada ikan budi daya laut, yaitu kutu kulit. Ada dua jenis kutu kulit yang ditemukan yaitu Neobenedenia dan benedinia. Jenis yang disebut pertama bersifat lebih patogen dibandingkan jenis kedua. Neobenedenia tidak hanya menyerang permukaan tubuh, tetapi juga mata yang dapat menyebabkan kebutaan dengan infeksi sekunder oleh bakteri.

 Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut adalah sebagai berikut :
 - Pemberian pakan harus cukup memadai dan tidak berlebihan.
 - Kepadatan tebar tidak terlalu tinggi 
- Perendaman dengan hydrogen peroxida 150 ppm selama 30 menit dilakukan sebanyak 2-3 kali dengan   interval waktu 7 hari. 

Ikan kuwe dapat dipanen setelah pemeliharaan 5-6 bulan. Ikan kuwe dapat dipanen dengan ukuran konsumsi (300-400 g). dengan kelangsungan hidup 70-95%, dapat dihasilkan ikan rata-rata 28 Kg/M3. Pemanenan ikan dalam KJA sangat mudah dilakukan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan.

No comments :